Thop Sport

Prediksi bola | Berita bola | Info bola | Jadwal bola | Prediksi skor

Agen Judi Bola Terpercaya Togel Online Togel Online  Agen Togel Terpercaya Agen Judi Bola Terpercaya  BandarQ Poker Sakong Online Agen Judi Online Casino & SportsBook Agen Poker Domino QQ Ceme BlackJack Online Indonesia  Agen Judi Poker Domino Capsa AduQ Indonesia Agen Judi Poker Domino QQ Online  Agen Poker Domino 99 Online Agen Poker Domino QQ Ceme Blackjack Online  Agen Poker Domino 99 Ceme Online  Agen Judi BandarQ BandarPoker Domino Online Indonesia  Bandar Poker BandarQ Online ituPoker  Agen Judi Online Agen BandarKiu Online ituDewa Agen Togel - Judi Togel - Togel Online Agen Poker Domino Ceme Online Live Casino Sbobet Online Agen Dominoqq Online, Bandar Poker Online Aman, Terpercaya

Categories

Aku Mesum Dengan Pembantuku Sekalian Anaknya

Cerita Sex Terbaru : Aku Mesum Dengan Pembantuku Sekalian Anaknya  – Malam itu aku berembuk tentang wanita itu, sebenarnya istriku agak keberatan jika wanita itu mengajak anaknya untuk bekerja di rumah kami yang dikatakan istriku sebagai beban tambahan, tapi setelah kuyakinkan akhirnya istriku setuju juga kalau wanita itu beserta anak gadisnya bekerja sebagai pembantu di rumah kami, alasanku karena istriku sedang sibuknya mengurus bisnis Malamnya dan karena pernikahan kami yang sudah 6 tahun belum mendapatkan keturunan, sehingga anak gadis itu bisa kami anggap sebagai anak kami sendiri.

Keesokan harinya sekitar jam 5:00 sore wanita itu dan anak gadisnya telah berada di rumahku untuk melakukan tugas sebagai pembantu, sebut saja wanita itu Dewi dan anak gadisnya Sinta. Karena rajinnya kerja kedua pembantuku itu, maka Santi kuijinkan untuk meneruskan sekolah atas tanggunganku.

Kulihat di wajahnya tersenyum kegirangan. “Terima kasih Pak, Sinta senang sekali bisa meneruskan sekolah, terima kasih Pak, Bu.” “Ya, tapi kamu harus rajin belajar, dan kalau sudah pulang sekolah kamu harus bantu ibumu,” kata istriku sambil berpelukan dengan Sinta, kulihat di wajah ibunya Sinta pun terlihat keceriaan.

Enam bulan berlalu sejak Dewi dan Sinta bekerja di rumah kami, aku berbuat mesum dengan Dewi sewaktu istriku pergi keluar kota untuk urusan bisnis MLM-nya. Hari itu hari Sabtu, malamnya istriku ke Jogja dengan kereta api, karena Sabtu kantor libur sementara Sinta sedang sekolah, aku melihat Dewi yang sedang berdiri di dapur membelakangi aku yang sedang masuk dapur selesai mencuci mobil. Aku tertegun melihat tubuh Nur yang mengunakan baju terusan warna hijau muda agak tipis sehingga terbayanglah tali BH dan celana dalam yang keduanya berwarna hitam menutupi bagian vitalnya.

Pantatnya yang padat dan seksi serta betisnya yang terbungkus kulit putih dan mulus bentuknya seperti bunting padi, membuat aku merasa tersedak seakan-akan ludahku tidak bisa tertelan karena membayangi tubuh Dewi yang indah itu. Tiba-tiba Dewi berbalik dan kaget melihatku yang baru saja membayanginya. “Eh.. Bapak, ngagetin saya aja.” “Eh.. Wik boleh saya duduk, saya mau tau kenapa kamu cerai, kamu mau menceritakannya ke saya.” “Eng.. gimana yach.. saya malu Pak, tapi bolehlah.

Akhirnya aku duduk di meja makan sementara Dewi menceritakan sejarah hidupnya sambil terus bekerja mempersiapkan makan siang untukku. Akhirnya aku baru tahu kalau Dewi itu menikah di usia 15 tahun dan setahun kemudian dia melahirkan Sinta dan dia bercerai 2 tahun yang lalu karena suaminya yang suka mabuk, judi, main perempuan dan suka memukulinya dan pernah hampir membunuhnya dimana di punggung Dewi ada bekas tusukan pisau. Aku tertegun mendengar ceritanya sementara Dewi seakan mau menangis membayangi jalan hidupnya kulihat itu di matanya sewaktu dia bercerita. Karena rasa kasihanku kurangkul tubuh Dewi.

“Sudah, Wik.. jangan nangis.. sekarang kamu sudah bisa hidup tenangan di sini bersama anakmu, lupakan masa lalumu yah.. saya minta maaf kalau membuat kamu harus mengingat lagi.” “Iya.. Pak.. saya dan Sinta.. berterima kasih sekali.. Bapak dan Ibu baik.. pada kami.” “Ya.. sudah.. sudah.. jangan nangis terus.. nanti Sinta pulang.. kamu malu deh.. kalau lagi nangis.” Dewi menangis dalam rangkulanku, air matanya membasahi kausku tapi tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang lain karena kedua payudaranya menyentuh dadaku yang membuat gejolak nafsuku meningkat. Tanpa sengaja bibir mungilnya kucium lembut dengan bibirku yang membuat dirinya gelagapan. “Aaahh.. Bapak!” Tapi kemudian dia membalas kecupanku dengan lembut sekali diikuti lidahnya memainkan lidahku yang membuat aku makin berani.

“Pak.. sshh..” “Kenapa.. Wik..?” “Tidak.. Pak.. aahh.. tidak apa-apa.” Kuangkat roknya dan aku meraba pantatnya yang padat lalu kutarik ke bawah celana dalam warna hitam miliknya sampai dengkul, pahanya kuraba dengan lembut sampai vaginanya tersentuh.

Dewi mulai bergelinjang, dia membalas dengan agresif leher dan pipiku diciuminya. Kumainkan jariku pada vaginanya, kutusuk vaginanya dengan jari tengah dan telunjukku hingga agak basah. “Aahh.. Pak, enak sekali deh..” “Nur.. kalau kita lanjutkan di kamar yuk!” “Saya sih mau aja Pak, tapi kalau nanti Ibu tahu gimana?” “Ah, ibu khan lagi ke Jogja, lagi pulangnya kan hari Selasa.

Kugiring Dewi ke kamarku, sampai di kamar kututup pintu dan langsung kusuruh Nur untukmenanggalkan pakaiannya. Dewi langsung menuruti keinginanku, seluruh pakaiannya ditanggalkan hingga dia bugil. Yang agak mengagetkanku karena keindahan tubuh Dewi.Dia memiliki tinggi sekitar 167 cm memiliki payudara yang kencang dan montok dibungkus kulit yang putih bersih, pinggul Dewi agak kurus tapi pantatnya yang agak besar dan padat dan vaginanya yang ditutupi bulu halus agak lebat membuat aku seakan tidak bisa menelan ludahku. Kalau aku beri nilai tubuh Dewi nilainya 9.9, hampir sempurna.“Bapak, baju Bapak juga dilepas dong, jangan bengong melihat tubuh Dewi.

“tubuhmu indah sekali, lebih indah dari tubuhnya Ibu.”

“Ah, masa sih Pak?” “Iya Wik, tahu gitu kamu saja yang jadi Ibu deh.” “Ah Bapak bisa aja nih, tapi kalau Dewi jadi Ibu, Dewi mau kok jadi ibu ke dua.” Aku langsung menanggalkan pakaianku dan batang kemaluanku langsung menegang keras dan panjang.

Kuhampiri Dewi langsung kucium bibirnya, dipeluknya diriku, tangan mungil Dewi meraba-raba batang kemaluanku lalu dikocoknya, liang vaginanya kusentuh dan kutusuk dengan jariku, kami bergelinjang bersamaan. Kami menjatuhkan diri kami bersamaan ke tempat tidur.

“Dewi, kamu mau nggak hisap Pisang saya, saya jilatin vaginamu.”Dewi hanya mengangguk lalu kami ambil posisi seperti angka 69. Batang kemaluanku sudah digenggam oleh tangannya lalu dijilat, dikulum dan disedot sambil sesekali dikocoknya. Liang vaginanya sudah kujilati dengan lembutnya, vaginanya mengeluarkan bau harum yang wangi, sementara rasanya agak manis terlebih ketika bijiklitorisnya terjilat.

Hampir 10 menit lamanya ketika keluar cairan putih kental membasahi liang vagina itu dan langsung kutelan habis. “Aaakkhh.. aakkhh..” rintih Dewi kelojotan.

Tapi lima menit kemudian giliranku yang kelojotan karena keluarlah cairan dari batang kemaluanku membasahi muka Dewi tapi dengan sigap dia langsung menelannya hingga habis lalu “helm” dan batangku dibersihkan dengan lidahnya. Setelah itu, aku merubah posisi, aku berbaring sedangkan Dewi kusuruh naik dan jongkok di selangkanganku. Lalu tangannya menggapai batang kemaluanku diarahkannya ke liang vaginanya. Tapi karena liang vagina Dewi yang sudah lama tidak dimasukan sesuatu jadi agak sempit sehinggaaku bantu dengan beberapa kali sodokkan, baru vagina itu tertembus batang kemaluanku.

“Blleess.. jlebb.. jlebb..” Kulihat Dewi agak menahan nafas karena batangku yang besar dan panjang telah menembus vaginanya. “Heekkh.. heekkhh.. punya Bapak gede banget sih Pak, tapi Dewi suka deh rasanya sodokannya sampai perut Dewi.” Tubuh Dewi dinaik-turunkan dan sesekali berputar, sewaktu berputar aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. “Dewi, vaginamu enak sekali, batangku kayak diperas-peras oleh vaginamu, terus terang Bapak barukali ini merasakannya, Sayang enak sekali pepekmu…

Setengah jam kemudian, aku merubah posisi dengan batang kemaluanku masih di dalam vagina Dewi, aku duduk dan kuangkat tubuhnya lalu kubaringkan tubuhnya di sisi tempat tidur dengan kaki Dewi menggantung, kutindih tubuhnya sehingga membuat sodokan batangku jadi lebih terasa ke dalam lagi masuk vaginanya. “Aakkhh.. aakkhh, iya Pak enakan gaya gini.

Payudaranya yang mancung dan puting yang agak kecoklatan sudah kucium, kuremas dan kusedot-sedot. 15 menit kemudian kami ganti posisi lagi, kali ini kami berposisi doggie style, liang vaginanya kusodok oleh batang kemaluanku dari belakang, Dewi menungging aku berdiri.

Kuhentak batanganku masuk lebih dalam lagi ke vagina Dewi yang hampir 15 menit,kemudian Dewi menjerit. “Akhh.. arghh.. sshh.. sshh.. Pak, Nur keluar nih.. akhh.. sshh..” Keluarlah cairan dari vagina Dewi yang membasahi dinding vaginanya dan batang kemaluanku yang masih terbenam di dalamnya sehingga vagina itu agak licin, tetapi tetap kusodok lebih keras lagi hingga 10 menit kemudian aku pun berasa ingin menembakkan cairan dari kemaluanku. “Dewi.. saya juga mau keluar nih, saya nggak tahan nich..

Pak.., tolong keluarin di dalam saja yach.. saya mau cobain kehangatan cairan Bapak, dan saya akan siap jadi ibu ke dua.” “Crroott.. croott.. crroott..” Keluarlah cairanku membasahi liang vagina Dewi, karena banyaknya cairanku hingga luber dan menetes ke paha Dewi.

Lalu kulepaskan batangku dari vaginanya dan kami langsung terbaring lemas tak berdaya di tempat tidurku. Lima menit kemudian,sebenarnya kami ingin istirahat, aku mendengar suara dari luar kamar tidurku,kami tersentak kaget..!!

Setelah berpakaian kusuruh Dewi keluar dari kamarku yang rupanya Sinta ada di ruang makan saat itu.Dia mencari-cari ibunya setelah pulang dari sekolah. Malam harinya setelah Sinta tertidur, Dewi kembali masuk kamarku untuk bercumbu lagi denganku.

Keesokan harinya, setelah aku terbangun kira-kira jam 8:00.Aku keluar kamar, aku mencari Dewi, tapi yang aku temukan hanya Sinta yang sedang menonton TV. Rupanya aku baru ingat kalau setiap Minggu pagi Dewi pergi berbelanja ke pasar.

Setelah mandi kutemani Sinta yang lagi duduk di karpet sambil nonton TV, sedangkan aku duduk di sofa. “Sinta.. gimana sekolah kamu..?” “Baik.. Pak, bulan depan mau ulangan umum.” “Mmm, ya sudah kamu belajar yang rajin yah, biar Ibu kamu bangga.”

“Pak, boleh Sinta tanya?” “Iya, kenapa Sin..?”
“Kemarin ketika Sinta pulang sekolah, Sinta kan cari ibu Dewi, pas buka kamar Bapak, Santi melihat Bapak dan ibu Sinta lagi telanjang terus,Sinta lihat kalau Ibu Dewi ditusuk dari belakang oleh Bapak, ada sesuatu punya Bapak yang masuk ke badan ibu Dewi, maaf yach Pak, Sinta lancang.

Mama Dewi lagi diapain sih sama Bapak?” “Hah, jadi kamu sempat melihat ibumu telanjang.” “Iya Pak, tapi kok Mama Dewi kayaknya keenakan ya.

Sinta jadi kepingin dech Pak kayak ibu Sinta.”

“Kamu serius Sin, kamu mau?” “Iya Pak.” Kulihat Sinta tersipu malu menjawab pertanyaan dariku, sementara rok Sinta tersingkap sewaktu duduknya bergeser sehingga pahanya yang putih mulus terlihat oleh mataku yang membuatku langsung terangsang.

Kusuruh Sinta duduk dipangkuanku. “Sin, sini kamu duduk di pangkuan Bapak.” Ketika dia berdiri menujuku, aku membuka resleting celanaku dan kuturunkan celana dalamku lalu aku keluarkan batang kemaluanku yang sudah menegang, sebelum Sinta duduk di pangkuanku, celana dalamnya yang putih kuturunkan sehingga vagina mungil putih bersih milikgadis 13 tahun ini ada di hadapanku, menyerbakan aroma wangi dari vaginanya yang ditutupi bulu-bulu halus dan langsung kujilat dengan lembutnya.

Sinta memegang kepalaku dan tubuhnya menggeliat. “Aahh.. sshh.. enak.. Pak.. enak.. sekali.” Vagina Santi yang masih muda itu terus kujilati karena rasanya manis-manis asin. Sinta pun makin menggelinjang, kira-kira 15 menit kemudian Sinta mulai kejang-kejang dan basahlah vagina itu oleh cairan putih kental yang mengalir dari dalamnya, cairan itu kutelan habi.

“Arghh.. arghh.. Pak.. ada yang keluar nih dari tempat pipis Sinta.. eugh.. eugh..” Tubuh Sinta langsung lemas tak berdaya, cepat-cepat kupangku. Batang kemaluanku yang mengeraskutempelkan pada vaginanya yang basah. Tubuhnya kuarahkan menghadapku, kemeja yang dikenakan Sinta kulepas sehingga dia hanya mengenakan baju dalam yang tipis.

Payudara Sinta yang baru tumbuh terbayang di balik baju dalamnya, segera kulepaskan sehingga di mukaku terpampang dipayudara yang baru mekar ditutupi kulit yang putih bersih dengan dihiasi puting agak kemerahan, langsung kulahap dengan mulutku, kujilat, kugigit dan kuhisap membuat payudara itu makin mekar dan putingnya mengeras.

Sementara Sinta masih tertidur lemas, batang kemaluanku yang sudah menempel di vagina Sinta yang masih sempit kusodok-sodokkan sedikit demi sedikit membuka keperawanan Sinta agar masuk batang kemaluanku kedalam  vagina yang masih perawan itu.

kumasukkan dua jariku untuk membuka vagina itu, kuputar kedua jariku sehingga vagina itu agak melebar dan basah. Setelah itu kucoba lagi dengan batang kemaluanku, kusodok masuk batanganku ke vagina Sinta yang memang masih sempit juga walau sudah dibantu dengan jariku. Akhirnya setelah 20 kali kutekan, masuklah helm batanganku ke vagina Sinta. Sinta mulai tersadar ketika batanganku menyodok vaginanya, dia pun menjerit kesakitan.

“Aawww.. aawww.. sshh.. sshh.. aawww.. sakit.. Pak.. tempat pipis Santi.. sakit awww.. aawww..”

“Sabar sayang nanti juga enak.. sayang.. tahan ya.. sakitnya.. sebentar lagi..”

Kupeluk tubuh Sinta dan menenangkannya dari rasa sakit pada vaginanya yang robek oleh batang kemaluan milikku yang memang super besar. Sodokkanku pada vagina Sinta kupelankan untuk mencegah rasa sakitnya dan 10 menit kemudian Sinta merasakan kenikmatan.

“Ahh.. ahh.. arghh.. arghh.. Pak.. sekarang tidak sakit lagi.. sekarang jadi enak.. aahh.. aahh..” Hampir setengah jam kemudian tiba-tiba Sinta mengeluarkan cairan dari dalam vaginanya berikut tetesan darah dan langsung tubuh Sinta lemas lagi dan pingsan. Aku menyadari bahwa aku telah membobol keperawanan Sinta. “Arrgghh.. Pak.. Sinta.. lemmaass..

Aku agak kaget juga melihat keadaan Sinta yang secara tidak sengaja kubobol keperawanannya tapi karena sudah tanggung terus kugenjot batanganku ke vagina Sinta yang sudah berdarah dan 10 menit kemudian keluarlah cairan dari dalam kemaluanku dengan derasnya memasuki liang vagina Santi hingga meluber ke pahaku.

“Crroot.. crroott..” “Ssshh.. sshh.. aahh.. nikmatnya.. vagina.. gadis ini..” Langsung kucabut batang kemaluanku dari vagina Sinta dan kubaringkan Sinta yang pingsan di Sofa. Sisa cairan yang masih melekat di vagina Sinta kulap dengan bajuku hingga bersih, sesudah itu kurapihkan baju Sinta dan kubiarkan Sinta yang masih pingsan tidur di Sofa, aku lalu membersihkan badanku sendiri. Sepuluh menit kemudian Dewi pulang dari pasar,sedangkan aku sudah memakai baju lagi. Sejak saat itu aku bermain dengan istriku jika dia di rumah, dengan Dewi jika istriku pergi dan Sinta sekolah, dengan Sinta jika istriku dan Dewi pergi.

Tamat

Updated: May 7, 2015 — 2:53 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thop Sport © 2016 Frontier Theme